KAROMAH DENGAN BASYIRAH, KAREN ISTIQAMAH
KH Yahya Syabrawi dilahirkan pada tahun 1907 Masehi di perkampungan Tattat Sampang, sekitar 6 km sebelah barat dari kota kabupaten Sampang Madura.
Jika dari rentetan keturunan sang ayah, memang tidak banyak silsilah yang dicatat. Hanya saja, beliau adalah cucu dari seorang wira’i yang berjuluk Adek dari kampung Tattat. Tetapi dari pihak orang tua perempuan, kiai Yahya merupakan seorang yang memiliki darah keturunan ulama. Ibu beliau Nyai Latifah adalah salah satu putri dari KH Isma’il (Ombul Sampang Madura) yang merupakan kakak perempuan dari KH Bukhori Isma’il (Ganjaran) ayah Nyai Mamnunah. Dari sinilah kiai Yahya masih keturunan Syeikh Sulaiman (Mojo Agung Jombang), pendiri pesantren Sidogiri Pasuruan. Dengan memiliki nasab demikian itu, sangat dimaklumi jika kiai Yahya mempunyai haibah (kewibaan) di mata masyarakat dan dikenal sebagai pribadi yang istiqomah (disiplin) dalam setiap prilaku hidupnya.
Yahya kecil mulai menempa ilmu dasar-dasar agama dengan belajar kepada orang tuanya sendiri, KH Syabrawi. Kemudian menginjak dewasa, beliau nyantri kepada kiai Makki Sampang selama delapan tahun. Di pondok pesantren ini, Yahya muda diperintahkan oleh kiainya untuk membantu mengajar, karena dipandang punya prestasi lebih dibanding santri yang lainnya. Kemudian, beliau melanjutkan rihlah ilmiahnya (perjalanan keilmuan) ke pondok pesantren Panji Sidoarjo Surabaya yang disuh oleh KH Khozin. “Oleh karena itu, nama putra pertamanya meniru nama gurunya,” cerita Nyai Mamnunah pada suatu hari. Disinipun, beliau mendapat kepercayaan mewakili kiai untuk mengajarkan kitab kuning.
Pada tahun 1937, beliau mengikuti pamannya yang berada di desa Ganjaran. Sewaktu berada di tempat ini, akhirnya beliau dikawinkan oleh KH Bukhori Isma’il dengan putrinya yang tidak lain adalah saudara sepupu sendiri. Tetapi, meski sudah menempuh hidup baru keinginan untuk terus memburu ilmu masih tetap membara dalam hatinya. Hal ini terbukti, beliau masih sering mengikuti pengajian kilatan di bulan puasa kepada gurunya di Sidoarjo. “Itulah kesemangatan kiai Yahya dalam hal ilmu. Ya begitu, beliau membawa kopi, gula dan segala macam keperluan sehari-hari di pondok,” demikian cerita H Ali Rohmat, salah satu menantu KH Zainulloh Bukhori dari Karang Ploso Batu.
Setelah kurang lebih sepuluh tahun beliau mukim di desa Ganjaran beliau mulai merintis madrasah Miftahusyibyan yang kelak kemudian hari bernama Raudlatul Ulum. “Perubahan nama itu atas istikhoroh KH Khozin. Ya putra kiai Yahya sendiri,” kata kiai Romli dari Madura. Pada awalnya pelaksanaan kegiatan pendidikan diadakan di rumah-rumah penduduk. Tetapi berkat kegigihan kiai Yahya dalam memperjuangkan sebuah pendidikan, akhirnya Kepala Desa H Abdurrahman ketika itu turun tangan mengupayakan tanah waqof untuk lahan gedung madrasah.

Pada masa awal, pendidikan di madrasah ini menggunakan metode ala salaf. Bahkan kebiasaan siswa dalam belajar juga masih berprilaku santri kuno seperti, sarung dan bakiak. Tetapi karena perkembangan zaman, kiai Yahya dengan dibantu menantunya, Drs KH Mursyid Alifi, kemudian berinisiatif mengembangkan pengetahuan dalam madrasah dengan memasukkan kurikulum dari pemerintah. Semenjak itulah madrasah Raudlatul Ulum semakin pesat perkembangannya dan diminati masyarakat. Selanjutnya, pada tahun 1985 kiai Yahya bersama KH Utsman Mansoer, salah satu pendiri Unisma Malang, membuka Fakultas Syari’ah Unisma di desa Putat Lor. Fakultas yang kini menjadi STAI Al-Qolam itu dimaksudkan untuk menjadi jenjang lanjutan bagi aliyah rintisannya dan madrsah aliyah yang lain.
Di samping merintis sebuah sekolah, pada tahun 1949 kiai yang wafat di RSI Gondanglegi itu juga mendirikan pondok pesantren Raudlatul Ulum. Di lingkungan pondok pesantren ini kiai Yahya membina para santrinya dengan berbagai pengajian kitab kuning. Sebagaimana pesantren salaf lain, beliau menjadikan kitab tafsir Jalalain, kitab hadits Riyadhussholihin dan kitab nahwu-shorof Ibnu Aqiel sebagai kitab bacaan rutin yang terus diulang tatkala sudah khatam. Ketiga kitab klasik ini dibaca usai sholat Maghrib hingga menjelang Isya’. Sehabis sholat Dhuhur, beliau membaca al-Iqna’ dan ditambah kitab kecil lainnya dengan metode sorogan.
Perhatian beliau terhadap kegiatan belajar para santri sangat besar sekali, terutama masalah sekolah ke madrasah. Hal ini tampak pada “kloning besi” yang berada di samping kamar beliau selalu ditabuh tatkala jarum jam menunjukkan pukul 07:00 wib. Setelah itu, beliau mengontrol keberangkatan para santri, hingga kadang ke kamar-kamar mereka. “Waduh, kalau beliau sudah mengontrol ke kamar-kamar teman-teman morat-marit berhamburan. Bahkan, ada yang melompat dari lantai atas, padahal ia sedang sakit. Saking takutnya,” ungkap kiai Mastuki, salah satu santri asal Pagedangan Sumber Manjing.
Satu hal lain yang menjadi perhatian serius dari kiai Yahya ialah masalah sopan santun santri terutama begaimana sikap mereka kepada kedua orang tuanya. Hal pertama menyangkut kesopanan kepada kedua orang tua yang selalu ditekankan oleh beliau adalah persoalan cara bicara kepada mereka, hingga sampai beliau pernah berkata :”Tenimbeng tang santreh tak abesah ke oreng tuanah, ango’ tak abesah ke sengko’ (ketimbang santri saya tidak berbahasa halus kepada orang tuanya, lebih baik tidak usah berbahasa halus kepada saya).”
Ulama yang dikaruniai 15 putra itu dikenal oleh santri-santrinya sebagai sosok kiai yang sangat istiqomah dalam menjaga sholat berjamaah. Menurut riwayat dari salah satu alumni, beliau akan mengajak sholat anak kecil sekalipun, bila ketinggalan berjemaah. Kedisiplinan beliau ini tidak saja pada persoalan sholat berjemaah, tetapi hingga pada bangun malam beliau selalu menjaga waktu. Sudah menjadi kebiasaan, beliau bangun pada jam 1 malam untuk mengambil wudlu’. Menurut ibu Nyai Mamnunah, pada awalnya beliau bangun jam 3 malam, tapi menginjak semakin sepuh, beliau bangun sekitar jam satu. Tidak itu saja, ke-istiqomah-an beliau tampak pada hampir semua doa harian sebagaimana tuntunan dalam kitab. Mulai dari doa mau tidur, bangun tidur, masuk kamar kecil, doa setelah wudlu’, hingga doa naik kendaraan beliau baca. Bahkan jika turun hujan pertama dari musim kemarau, beliau mandi berhujan-hujan sebagaimana disunnahkan.
Oleh karena istiqomah inilah, maka tidak heran dalam pandangan para alumni, kiai yang memanggil istrinya dengan sebutan “Kho” ini kadang memiliki penglihatan basyiroh (mata hati). Pernah suatu hari, menurut cerita Ustadz Isma’il Fathulloh dari Boro, Ustadz berperawakan kurus ini berniat membeli tv untuk keluarganya. Sesampainya di gerbang timur pesantren, kiai Yahya memanggil dan memegang pundaknya sambil berkata ;”Kalau mau jadi anakku, jangan beli tv !” Padahal ia belum mengucapkan sepatah katapun.
Lain lagi cerita kiai Romli dari Madura. Ia pernah disuruh oleh kiai Yahya meminta uang kepada Kepala Desa. Sambil berjalan menuju gerbang pesantren sebelah selatan, santri gemuk ini bergumam dalam hati, “katanya uang negara haram. Tapi saya disuruh minta.” Spontan kiai Yahya memanggilnya, ”Heh, itu bukan uang negara. Itu uang tebuku yang ada di bapak Kepala Desa !” hardik beliau dengan keras.
Beliau wafat hari Jumat 27 November 1987, jam 18: 30 wib. Semoga ilmu dan istiqomahnya tetap mengalir pada santri-santrinya. Amin.
Oleh. HM. Madarik Yahya

