Oleh; Zulfa Qariba
PEMANASAN GLOBAL
Terkait dengan isu gejala kondisi alam yang kian labil dalam dekade terakhir ini kita banyak sekali menemukan berita seputar pemanasan global di berbagai media . Apa itu pemanasan global ? pemanasan global atau global warming adalah adanya suatu proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi yang kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer seperti uap air, karbon dioksida, dan metana akibat aktifitas manusia di bumi.
Efek rumah kaca atau dikenal dengan istilah green house effect yang merupakan penyebab utama pemanasan global terjadi karena meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, apa itu gas rumah kaca ? mengapa disebut sebagai gas rumah kaca ? gas rumah kaca adalah uap air, karbon dioksida ( CO2 ), dan gas metan ( CH4 ), disebut sebagai gas rumah kaca karena menyerupai gas dalam rumah kaca / rumah hijau yang terbuat dari gelas atau plastik untuk kegiatan pertanian dan perkebunan . Oleh karena itu penyebutan efek rumah kaca ini didasarkan atas peristiwa alam yang mirip dengan yang terjadi di rumah kaca untuk menghangatkan tanaman di dalamnya yakni ketika panas matahari yang merambat masuk ke dalam rumah kaca sebagian akan terperangkap dan tak bisa menembus ke luar sehingga dapat menghangatkan seisi rumah kaca tersebut . Fenomena efek rumah kaca pertama kali ditemukan oleh fisikawan prancis Joseph Fourier pada tahun 1824 dan dibuktikan secara kuantitatif oleh Svante Arrhenius pada 1896.
Dalam bahasa yang sederhana proses terjadinya efek rumah kaca adalah : panas matahari merambat dan masuk ke permukaan bumi, kemudian panas matahari tersebut dipantulkan oleh permukaan bumi ke angkasa melalui atmosfer, namun tidak semuanya dilepaskan ke angkasa luar sebagian panas matahari itu akan diserap oleh gas rumah kaca yang ada di atmosfer lalu dipantulkan kembali ke permukaan bumi dan terperangkap di permukaan bumi sehingga suhu bumi menjadi semakin panas .
Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer maka akan semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya, dan semakin banyak panas terperangkap di permukaan bumi maka akan semakin cepat terjadinya dampak buruk dari proses pemanasan global.
Beberapa hal yang berkontribusi pada peningkatan gas rumah kaca di antaranya adalah :
- Energi dari pemanfaatan berbagai macam bahan bakar fosil atau BBM dan batu bara yang menghasilkan begitu besar emisi gas karbon dioksida (CO2) melalui industri dan transportasi.
- Terjadinya kerusakan hutan di berbagai belahan bumi yang turut merusak fungsi hutan-hutan itu sebagai penyerap emisi gas rumah kaca dengan mengubah karbon dioksida ( CO2) menjadi oksigen(O2).
- Meningkatnya area sektor peternakan dan pertanian sebagai penghasil gas metan (CH4) dari pemanfaatan pupuk, pembusukan kotoran-kotoran ternak dan sisa-sisa pertanian serta pembakaran sabana.
- Sampah yang ditimbulkan dari aktivitas keseharian manusia merupakan polutan dan kontributor besar pada terbentuknya gas metan.
Meskipun pada kenyataannya efek rumah kaca tidak selau berdampak negatif dan merugikan manusia tetapi pada sisi lain dibutuhkan untuk menghangatkan bumi dari pembekuan dan suhu dingin yang bisa mencapai derajat suhu bukit es sehingga kecil sekali kemungkinan ekosistem makhluk hidup dapat berkembang dan bertahan hidup di situ, namun peningkatan efek rumah kaca yang berlebihan akan berdampak buruk pada kestabilan kondisi alam di bumi dan dengan cepat akan berdampak pada ranah sosial politik secara global seperti meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim dan iklim yang kian labil, mencairnya gunung-gunung es di kutub dengan cepat terutama sekitar kawasan Greenland serta meningkatnya tinggi permukaan air laut yang selanjutnya akan menelan daerah-daerah pantai dan pulau-pulau kecil, suhu global cenderung meningkat, menipisnya lapisan ozon yang berfungsi sebagai perisai bumi dari sinar ultra fiolet, menimbulkan gangguan ekologis yang berimplikasi pada punahnya berbagai spesies satwa dan tumbuhan, timbulnya berbagai bencana alam seperti banjir dan kekeringan di berbagai daerah , timbulnya berbagai permasalahan pangan dan kelaparan akibat gagal panen serta berbagai wabah penyakit yang menyerang manusia sebagai dampak perubahan iklim, polusi, dan bencana .
Betapa hebatnya efek yang diperkirakan akibat pemanasan global yang berkelanjutan . Dan ketika bahan-bahan di permukaan bumi yang berperan aktif untuk mengabsorpsi gas-gas rumah kaca tersebut yakni tumbuh-tumbuhan, hutan, dan laut juga mengalami kerusakan serius dan tak segara tertangani maka selanjutnya resiko berbahaya akan sulit untuk dibendung, ironisnya, masyarakat miskin di berbagai belahan dunia yang pertama kali akan menanggung dampak terburuk dari ancaman global ini di mana keterbatasan daya dan ekonomi akan menyulitkan mereka untuk menghindar dari efek mengenaskan padahal pada dasarnya mereka tidak terkait langsung pada aktivitas yang menjadi penyebab utama meningkatnya proses pemanasan global di muka bumi . Allah berfirman dalam ayat ( Al-Anfal : 25 ) :
واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة واعلموا أن الله شديد العقاب
Kandungan ayat ini sesuai dengan sebab turunnya merupakan peringatan kepada para sahabat Nabi akan pertikaian di masa mereka yang merebak dan memecah belah persatuan umat Islam serta menjadi pemicu terjadinya perang Jamal dan Shiffin di mana pertikaian tersebut akan memicu datangnya adzab lewat permusuhan dan peperangan yang tidak saja menyengsarakan orang-orang dzalim tapi akan menelan korban dari kalangan orang-orang yang shalih dan tak berdosa . Bencana tidak mesti bentuk dari adzab, tapi secara umum dalam konteks keterkaitan sebab akibat ayat di atas dapat diinterpretasikan sebagai peringatan kepada seluruh umat Islam bahwa suatu adzab dan bencana yang datang akibat pekerjaan sekelompok orang berpotensi melanda dan mengancam kehidupan masyarakat secara keseluruhan . Demikian pula dampak kerusakan lingkungan dan pemanasan global yang tengah mengancam akan berpotensi menghancurkan pilar kehidupan berjuta umat manusia dan makhluk hidup di atas permukaan bumi.
Oleh karena itu yang harus dilakukan semua pihak adalah bersama-sama berupaya menekan kuantitas emisi gas rumah kaca saat ini yang menyebabkan terjadinya efek rumah kaca sebagai langkah untuk mengendalikan pemanasan global, baik dengan mengurangi produksi gas rumah kaca dari berbagai industri dan transportasi maupun dengan menghilangkan karbon, langkah yang paling mudah dalam menghilangkan karbon adalah dengan menanam banyak pohon atau penghijauan kembali karna pepohonan yang masih muda dan cepat pertumbuhannya dapat mengabsorpsi karbon dioksida dengan sangat banyak lalu memecahnya menjadi oksigen melalui fotosintetis dan menyimpan karbon dioksida dalam batang kayunya . Meskipun masih banyak kalangan mengenggep sepele dampak berkepanjangan yang akan dapat ditimbulkan oleh memburuknya pemanasan bumi ini, tercermin dari hasil beberapa konferensi tingkat dunia yang diikuti berbagai negara dalam pembahasan mengenai isu-isu lingkungan akhir-akhir ini seperti KTT Copenhagen yang diselenggarakan di kota Denmark yang diikuti 192 negara pada Desember 2009 lalu, sebagian negara-negara yang berperan sebagai penyumbang emisi terbesar masih enggan dan berpikir beribu kali untuk meminimalisir produksi-produksi gas rumah kacanya serta saling tunjuk dan melempar tanggung jawab antara negara-negara industri maju dan negara-negara ekonomi baru, saling berdalih dan tak mau dipersalahkan, walau sebenarnya tanggung jawab itu seharusnya dipikul bersama sesuai dengan tingkat kontribusi tiap negara akan emisi gas rumah kaca dengan kesadaran sepenuhnya sebelum dampak hebat yang tak diinginkan tiba dan mengancam kehidupan yang ada. Meskipun begitu alotnya perjuangan seputar penghentian emisi karbon dan upaya rehabilitasi lingkungan namun segenap upaya untuk menjaga stabilitas kondisi bumi harus terus diperjuangkan demi kemaslahatan dan keselamatan umat manusia dan umat Islam sebagai pelaksana hukum-hukum Allah di muka bumi sejatinya dituntut untuk bergerak di garis depan dan berperan aktif dalam hal ini berpijak pada ayat-ayat yang telah diuraikan di atas . Wallahu a’lam .
BUMI KITA SAAT INI
Bumi, planet biru yang berdiameter sekitar 12.756 kilometer ini diatas hamparannya terdapat berjuta bentuk kehidupan makhluk hidup baik di darat maupun di laut yang bergerak mengikuti ketetapan Ilahi . Sesuai dengan keterangan Al-Quran bumi diciptakan selama empat hari beserta seluruh isinya dan dipersiapkan untuk tempat huni manusia dalam mengemban tugas dan amanah dari Allah SWT dengan segala kekayaan dan pesona keindahannya sebagaimana dalam ayat ( Fushshilat : 9-10 ) yang berbunyi :
قل أإنكم لتكفرون بالذي خلق الأرض في يومين وتجعلون له أندادا ذلك رب العالمين وجعل فيها رواسي من فوقها وبارك فيها أقواتها في أربعة أيام سواء للسائلين
Bumi merupakan planet ketiga dari delapan planet dalam sistem tata surya, ia memiliki lapisan udara ( atmosfer ) dan medan magnet ( magnetosfer ) yang melindunginya dari angin matahari, sinar ultra violet, dan radiasi dari luar angkasa . Di samping itu bumi mendapat energi pancaran matahari yang merupakan sumber energi bagi lingkungan tata surya dan sekaligus penggerak mesin iklim di muka bumi sehingga tercipta suhu bumi yang hangat dan layak huni serta tercipta perputaran roda iklim, siang dan malam, oleh karenanya berjuta flora dapat tumbuh di atas permukaannya dan menjadi pemandangan hijau eksotis yang tak dimiliki ribuan planet lain yang di antara beberapa fungsi terpentingnya adalah menjadi bahan resapan air sekaligus paru-paru dunia .
Subhanallah, maha suci Allah yang telah menciptakannya, namun seiring waktu wajah bumi yang hijau dan lestaripun pudar dan berubah menjadi permukaan yang rusak dan gundul akibat ulah tangan manusia, hutan-hutan terus dirambah hingga mencapai level yang menghawatirkan, polusi bertebaran baik di darat, air, dan udara, efek buruk dari kerusakan alam inipun mulai terasa dengan tampaknya gejala dampak pemanasan bumi seperti udara yang kian panas, perubahan iklim secara drastis, datangnya berbagai bencana banjir, gelombang badai, dan lain-lain yang memakan banyak korban jiwa dan harta.
Tercatat 70 persen dari luas daratan indonesia atau sekitar 130 juta hektar adalah kawasan hutan, namun di tahun 2010 ini sekitar 4,2 persen atau 43 juta hektar dari luas itu sudah gundul karena deforestasi ( perusakan hutan ), begitu pula yang terjadi pada area keseluruhan hutan dunia, sekitar 80 persen lebih telah mengalami kerusakan akibat deforestasi baik dengan penebangan kayu untuk diambil kayunya, pembakaran atau konversi ke lahan pertanian dan perkebunan skala besar baik yang dilakukan oleh industri-industri penebangan kayu atau industri pertanian dan para petani.
Hutan tropis adalah hutan yang banyak menerima hujan sehingga disebut juga sebagai hutan hujan, hutan ini terkenal dengan kekayaaan dan keragaman hayatinya bahkan separuh dari jumlah spesies binatang dan tanaman hidup di dalamnya . Hutan tropis Indonesia merupakan hutan terluas ketiga di dunia setelah hutan Amazon di Brazil dan hutan di Republik Demokrasi Kongo . Namun sangat disayangkan, luas hutan tropis yang berfungsi seperti spon penyerap gas rumah kaca terbesar ini selalu berkurang setiap tahunnya yang mengancam eksistensi hutan dan habitat spesies-spesies binatang yang berlindung di dalamnya .
Situasi ini menimbulkan problema besar di mana upaya penghijauan yang selama ini dilakukan tidak sebanding dengan perusakan hutan yang didasari berbagai latar belakang dan motif, padahal hutan-hutan tropis tersebut bersama jenis hutan yang lain seperti hutan boreal, hutan sub tropis, dan hutan magrove berkontribusi besar dalam menjaga sistem lingkungan yang penting bagi kehidupan di bumi, membantu menstabilkan iklim dengan menyimpan karbon yang apabila terlepas akan mempengaruhi perubahan iklim .
Bumi pun seolah menderita dan menuju fase kritis, banyak prediksi para ilmuwan yang berkembang dari berbagai penelitian menunjukkan kedahsyatan dampak pemanasan bumi, meskipun pemanasan bumi terkadang terjadi lewat pengaruh siklus alami dari peristiwa iklim yang disebut Elnino yaitu fenomena iklim yang berulang 2-7 tahun namun efek rumah kaca akan memperparah proses pemanasan yang terjadi, dan situasi-situasi terburuk ini sudah selayaknya harus kita waspadai dan kita antisipasi dengan berbagai cara sejak saat sekarang dengan merawat dan menjaga bumi dari kerusakan fatal yang dapat mengancam kehidupan di atasnya sesuai dengan kewajiban kita sebagai manusia.
URGENSI PENGHIJAUAN DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN
Dari ulasan di depan dapat kita petik kesimpulan betapa penting dan besarnya nilai serta dampak dari upaya menghargai alam dan segala nikmat yang dikaruniakan-Nya baik dengan pelestarian alam dan lingkungan sekitar kita . Berdasarkan keterangan di atas pula telas jelas betapa komprehensifnya ajaran Islam yang memberi tuntunan pemeluknya untuk menjadi umat terbaik dan bertanggung jawab mengemban tugas kekhilafahannya namun berhasil tidaknya keterlaksanaannya bergantung pada bagaimana umat Islam sendiri memahami agama secara kontekstual dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, dan nyatanya keadaan yang ada masih jauh dari yang diharapkan, pemahaman yang dangkal dan kurangnya penghayatan mengenai kandungan Al-Quran masih membayangi dan menghambat kesadaran mereka tentang urgensi penghijauan dan pelestarian alam, ditambah dengan sistem pemerintahan yang kurang kondusif dan tingkat pendididikan serta pengetahuan yang rendah menjadikan umat Islam di beberapa penjuru dunia seolah tertidur dan tak menyadari ancaman global yang tengah mendekati bumi mereka dengan sedikitnya perhatian terhadap lingkungan dan penghijauan . Meski hal itu tak semua dialami masyarakat Islam seluruhnya seperti yang dilakukan negara Tanzania yang berkomitmen mempraktekkan pendekatan Al-Quran dan Al-Hadist pada ranah pelestarian lingkungan terhadap masyarakatnya dan bekerjasama dengan IFEES ( Islamic Foundation for Ecology and Environmental Sciences ) sebuah lembaga ilmu ekologi dan lingkungan hidup Islami yang berbasis di Inggris.
Hal itu perlu disyukuri dan dijadikan acuan untuk kawasan muslim yang lain, karena hakekatnya umat Islam dapat berkontribusi besar dengan penanaman kesadaran dan pendidikan yang intensif lewat pendekatan ajaran Islam sendiri dalam tema penghijauan dan pelestarian alam . Ide eko-Islam yang menempatkan soal keseimbangan ekologis dalam konteks agama merupakan ide yang dapat menggerakkan masyarakat Islam untuk melindungi zona hijau dan merefleksikan diri serta gaya hidup sesuai dengan ide tersebut . Dan langkah pertama adalah mereka harus mengenal hubungan antara Islam dan lingkungan, bukan dua hal yang terpisah, dan mengikat paradigma bahwa melakukan perlindungan alam adalah bagian dari hal yang bersifat spiritual karena secara tertulis telah terkandung dalam Al-Quran dan Al-Hadist sebagaimana dijelaskan sebelumnya.
Di Indonesia sendiri konsep Islam tentang pemeliharaan lingkungan hidup bergulir dengan diangkatnya ide fiqh lingkungan hidup ( fiqh al-biah ) yang dikenalkan oleh KH. Ali Yafie dengan pendekatan maslahah bagi ummat dan melengkapi ruang-ruang fiqh yang ada seperti fiqh ibadah, fqh mu’amalat, munakahat, dan jinayat . Konsep pemeliharaan lingkungan hidup tersebut dijadikan bagian kulliyat al-khams menjadi kulliyat as-sitt ( enam komponen kehidupan dasar manusia ), yaitu : hifdzu an-nafs, hifdzu an-nasb, hifdzu al-mal, hifdzu al-‘aql, hifdzu ad-din, hifdzu al-biah.
Adapun prinsip dasar pemeliharaan lingkungan hidup ( hifdzu al-biah ) adalah :
- Melakukan perlindungan jiwa raga adalah keajiban utama .
- Kehidupan dunia merupakan bekal untuk kehidupan akhirat .
- Produksi dan konsumsi harus dengan standar kebutuhan layak manusia .
- Keselarasan dan keseimbangan ekosistem mutlak ditegakkan
- Semua makhluk adalah mulia
- Manusia adalah khalifah di bumi
- Hukum pemeliharaan lingkungan baik air, tanah, dan udara adalah fardhu kifayah , dan memelihara lingkungan hidup adalah manifestasi iman seseorang
Berkenaan dengan hal itu menjaga lingkungan dengan baik berarti menjaga keselamatan hidup kita sendiri di muka bumi, hal itu bukanlah hal berlebihan mengingat krisis lingkungan yang tengah mendera beberapa dekade ini. Allah SWT menetapkan bahwa ketika keseimbangan alam dirusak maka akibat dan gesekan yang terjadi dari efek kerusakan sistemnya akan timbul berupa bencana yang akan merugikan manusia sendiri sebagai sunnatullah yang berlaku, dari situlah berawal urgensi pelestarian lingkungan.
MENJAGA KELESTARIAN ALAM SEBAGAI RASA SYUKUR NIKMAT
Bukan main-main, Allah menciptakan langit, bumi dan seisinya sebagai tanda kekuasaannya untuk direnungkan dan disyukuri, serta dimanfaatkan oleh manusia sebagai fasilitas dalam menjalankan fungsinya untuk beribadah dan menegakkan hukum-hukum-Nya . Allah berfirman dalam ( Shaad : 27 ) :
وما خلقنا السمولت والأرض وما بينهما با طلا
Bagaimana kita memperlakukan alam sebagai nikmat dan fasilitas yang diberikan oleh Allah untuk menyangga dan memenuhi kebutuhan hidup kita? Santunkah kita kepada Allah ketika kita semena-mena memanfaatkannya tidak untuk di jalan-Nya dan merusak sana sini menghancurkan keseimbangan kehidupan alam di muka bumi? . Dalam ayat yang lain Allah menegaskan tentang hakekat penciptaan langit bumi dan mengecam tindakan manusia yang gemar melakukan maksiat dan melakukan perusakan di sana sini jika Allah berkehendak niscaya akan mengganti manusia dengan kaum yang lain . Hal ini tertuang dalam ) Ibrahim : 19 , An-Nisa’ : 133 ) :
ألم تر أن الله خلق السموات و الأرض بالحق إن يشأ يذ هبكم ويأت بخلق جديد وما ذلك على الله بعزيز
إن بشأ يذهبكم أيها الناس ويأت بأخرين وكا ن الله على ذلك قديرا
Pada intinya, mensyukuri karunia Ilahi adalah bukan berarti mengeksploitasi kekayaan alam habis-habisan dan menjadikannya komoditi untuk menghasilkan keuntungan sesaat dan bagi sebagian orang belaka akan tetapi selanjutnya mengakibatkan dampak buruk berkepanjangan bagi kelangsungan hidup makhluk lain dan generasi berikutnya tetapi mengarah pada sinergi antara pemberdayaan alam dan pemanfaatan tepat guna sesuai dengan standar kebutuhan dan diimbangi dengan proteksi atas kelestarian alam dan hutan pada khususnya . Dengan kata lain melakukan perlindungan hutan dan pelestarian alam adalah salah satu bentuk bagaimana kita mensyukuri nikmat Ilahi, banyak hal yang bisa dilakukan dalam upaya menjaga lingkungan alam mulai dari hal-hal kecil seperti :
- Melakukan penghijauan di sekitar rumah, bila setiap rumah mempunyai satu pohon rimbun yang akarnya dapat menyerap aliran air kala hujan, dedaunannya dapat menghasilkan oksigen bersih dan menyerap karbon dioksida yang bertebaran dari asap kendaraan dan merupakan polutan berbahaya, hal kecil tersebut bisa membantu mengurangi resiko banjir dan bahaya pencemaran udara serta menyumbangkan udara segar dan sehat bagi kehidupan berjuta makhluk di sekitarnya.
- Menjaga hutan dari segala usaha deforestasi untuk komoditi atau lahan pertanian.
- Mengoptimalkan program-program reboisasi dan teknologi ramah lingkungan seperti hutan lindung, taman hijau di area perkotaan, program daur ulang limbah dari pabrik dan perusahaan, hemat energi, daur ulang sampah, meminimalisasi emisi karbon dari pabrik dan kendaraan, dan lain sebagainya.
- Menggerakkan pendidikan intensif bertema penghijauan dan pelestarian lingkungan ke tengah masyarakat dan sekolah
- Mensosialisasikan pentingnya penghijauan lewat berbagai forum, media, dan oleh berbagai pihak, yang selama ini dilakukan adalah sosialisasi yang masih didominasi oleh lembaga-lembaga pemerintah dan kalangan pemerhati lingkungan hidup saja, banyak ulama dan tokoh agama di berbagai tempat masih kurang berkiprah dalam menghimbau dan memasyarakatkan penghijauan karena lebih memusatkan diri pada masalah seputar ibadah dan muamalat saja, belum melebarkan dakwah pada ranah pelestarian alam yang tengah menjadi topik aktual di era global ini terkait dengan degradasi lingkungan, alangkah lebih baik jika ulama kini turut memberikan perhatian lebih dan aktif berperan menyerukan urgensi penghijauan dan pelestarian di bumi mengingat kondisi alam dan mencuatnya tingkat pemanasan global di muka bumi saat ini selain hal tersebut secara eksplisit dan implisit dikemukakan oleh sumber agama Islam yakni Al-Quran dan Al-Hadist.
- Mengenalkan penghijauan pada generasi muda sejak dini serta membangkitkan kecintaan mereka terhadap alam dan kelestarian lingkungan.
Ulama dan para muballigh yang notabene mempunyai pengaruh besar di tengah masyarakat sangat berpotensi untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan kewajiban mencintai lingkungan alam serta merawat dan menjaga kelestariannya berangkat dari ajaran agama yang menempatkan manusia sebagai khalifah di bumi . Memperbincangkan masalah penghijauan yang disinergikan dengan ayat-ayat Ilahi merupakan konteks salah satu upaya membumikan Al-Quran ketika berbicara mengenai ayat-ayat kauniyah yang perlu dijaga keseimbangannya sebagai tempat bertafakkur luhur dan memandang kebesaran Allah khususnya bagi orang-orang mukmin dan bertaqwa, yang senantiasa menggerakkan kemampuan berpikirnya sambil mengingat Allah, menyadari sejatinya penciptaan langit dan bumi serta menunaikan tugas kekhalifahannya di muka bumi, mereka tertulis dalam ayat ( Al-‘imron : 190-191 )
إن في خلق السموات والأرض و اختلا ف الليل والنهار لأ يت لأولي الأ لباب (190). الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوبهم ويتفكرون في خلق السموات والأرض ربنا ما خلقت هذا باطلا سبحانك فقنا عذا ب النار (191)
Artinya: “(190). Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (191) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka”
DAFTAR PUSTAKA :
1- Al-Quran Al-Karim .
2- Wahbah Az-Zuhaily, Tafsir Al-Munir
3- Al-Bukhori, Shahih Bukhari
4- Al-Muslim, Shahih Muslim
5- Forest Wacth Indonesia, Potret keadaan hutan Indonesia, Global forest Wacth. 2001.
6- Prof. K.H Ali Yafie, Merintis fiqh lingkungan hidup, Ufuk press. 2006.
7- M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran, Mizan. 2007.
8- Wikipedia Indonesia
9- Kompas
10- www.greenpeace.org


