HAUL KH. KHOZIN YAHYA (PENGASUH PPRU1 KE-2) INSYA-ALLAH AKAN DILAKSANAKAN PADA AHAD 27 RAMADHAN 1431 H/ 5 SEPT. 2010 M.
Powered by MaxBlogPress  
Wednesday, May 26th, 2010 | Author: admin

MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH DI MUKA BUMI

Oleh; Zulfa Qariba

Alam kita

Alam kita

Manusia merupakan terjemahan dari bahasa arab  al-insan  dengan bentuk jamak an-Nas yang secara etimologi bermakna makhluk yang jinak, ideal, harmoni, bersahabat dan mudah ditaklukkan . Kata manusia tersebut dalam Al-Quran dengan beberapa nama yakni al-insan, al-basyar dan  bani adam  yang menunjukkan sifat lahiriyah dan persamaannya dengan manusia sebagai satu keseluruhan dan mengandung pengertian  sebagai makhluk yang mempunyai satu nenek moyang yaitu nabi Adam.
Manusia secara fitrah mempunyai potensi-potensi  yang tidak dimiliki makhluk lain sebagai suatu kemuliaan dan bagian dari rencana Allah dalam  mempersiapkan sarana dan fasilitas bagi manusia dimana ia akan memikul tanggung jawab besar di muka bumi   sebegaimana tersurat dalam Al-Baqarah : 30 :
و إذ قال ربك للملئكة إني جاعل في الأرض خليفة   قالو أتجعل  فيها من يفسد فيها و يسفك الدماء و نحن نسبح بحمدك ونقدس لك  قال إني أعلم ما لا تعلمون

Dalam ayat tersebut terdapat dialog antara Allah SWT dengan para malaikat yang mempertanyakan ketetapan Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi, pertanyaan tersebut bukan dengan tanpa suatu alasan yaitu disebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang akan melakukan perusakan dan gemar  menebarkan pertumpahan darah . Namun secara tegas Allah memberikan jawaban bahwa hanya Dia-lah yang mengetahui atas segala ketetapan dan hikmah perencanaan dalam penciptaan dan penempatan  nabi Adam di bumi sebagai Abu Al-Basyar ( bapak manusia ) yang merupakan sebab bermulanya kehidupan manusia di sana dan sebab yang memungkinkan terutusnya   para nabi dan rasul sekaligus nabi terakhir yakni     nabi Muhammad SAW dengan membawa risalah agama Islam.
Oleh karena itu dapat disimpulkan fungsi manusia dalam kehidupannya di muka bumi adalah :
1-    Sebagai ‘Abdullah ( hamba Allah ) yang mempunyai kewajiban beribadah dan mematuhi aturan-aturan Allah Sang pencipta  , sebagaimana dijelaskan dalam ayat ( Adz-Dzariyat : 56 ) :
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون
“ Dan tidak aku jadikan jin dan manusia kecuali untuk beribadah padaku “
2-    Sebagai Khalifah , secara etimologi khalifah berarti pengganti atau yang diganti (  merupakan isim fa’il atau isim maf’ul dari kata khalafa yakhlufu dengan tambahan ta’ mubalgahah ) yaitu makhluk yang menggantikan peran makhluk sebelumnya di muka bumi yakni para jin  dan makhluk yang secara berkesinambungan akan digantikan oleh satu generasi ke generasi berikutnya sebagaimana pendapat Abdullah ibnu ‘Abbas ra dan  Ibnu Katsir.
Akan tetapi secara terminologi dan maksud dari khalifah adalah seperti pendapat Abdullah bin Mas’ud ra selanjutnya yaitu  makhluk yang menjadi pemimpin dan mengemban tanggung jawab dalam menerapkan hukum Allah di muka bumi bagi semua makhluk , sebagaimana dalam ayat Al-Baqarah : 30 . Hal itu bukan karena kebutuhan Allah ta’ala terhadap sesuatu yang akan menjadi perantara untuk menegakkan hukum-Nya di muka bumi tetapi karena sebab keterbatasan dan kelemahan para makhluk untuk menerima perintah langsung dari-Nya.
Berkaitan dengan hal ini dapat disimpulkan betapa pentingnya membangun kesadaran pada diri setiap muslim akan tujuan hidup dan tugas keberadaannya di bumi dengan potensi akal, potensi agama, dan pengetahuan sebagai karunia dari Sang Khalik  untuk melaksanakan tanggung jawab  dan kredibilitasnya untuk menyembah dan mengabdi pada-Nya semata, menjaga keseimbangan alam dan ketentraman di bumi . Betapa penting bagi tiap individu untuk menyadari bahwa dirinya yang terlahir ke bumi merupakan hamba sekaligus khalifah, dan bukan sekedar predikat  yang disandang sebagai gelar yang menjadikannya lebih mulia dari makhluk Allah lainnya, akan tetapi sebuah kesadaran dari tanggung jawab besar di dalamnya yang mendorongnya untuk terus berusaha memperbaiki kualitas amal dan bangkit dari kelalaian dan kebodohannya akan sejatinya hidup di atas hamparan bumi beserta segala nikmat di dalamnya.
Namun sesuai sunnatullah, dari manusia terdapat hamba-hamba yang shalih dan taat dan sebagian pula adalah hamba-hamba yang suka  membangkang dari perintah-Nya dan melakukan perusakan di bumi Allah baik dengan pertumpahan darah dan kemaksiatan atau dengan penghancuran ekosistem-ekosistem yang dapat menyebabkan kehancuran umat manusia, yang sebenarnya merupakan wujud dendam dan tekad Iblis beserta pengikutnya untuk selalu menggelincirkan manusia pada jalan kehancuran dan kesesatan .  Sesuai firman-Nya dalam ayat ( Al-A’raf : 181 ) , ( Al-Hijr : 39-40 ) :
وممن خلقنا أمة يهدون بالحق وبه يعدلون  والذين كذبوا بأياتنا سنستدرجهم من حيث لايعلمون
قال رب بما أ غويتني لأ زبنن لهم في الأؤض ولأ غوينهم أجمعين إلاعبادك منهم المخلصين

Demikianlah sekelumit tentang tujuan dan fungsi penciptaan manusia yang telah diuraikan Al-Quran dengan hikmah yang terkandung dan diisyaratkan oleh Allah kepada para malaikat-Nya yang senantiasa bertasbih dan dan tak pernah lelah mengagungkan-Nya tentang maslahat yang akan lebih unggul dari mafsadah yang akan tercipta di muka bumi dengan hadirnya para nabi dan para rasul , shiddiqun , syuhada’ , dan hamba-hamba-Nya yang shaleh yang senantiasa menegakkan dan membumikan hukum-hukum-Nya , hal ini tersurat dalam firman-Nya :
قال أني أعلم مالاتعلمون

PENGHIJAUAN DI MATA ISLAM

Penghijauan merupakan suatu bentuk pelestarian alam dan penyelamatan ekosistem penting yang berdampak besar pada keselamatan dan tetap tegaknya pondasi kehidupan berjuta ekosistem yang lain , di mana  oksigen yang bersih dan sehat dapat dihirup manusia melalui proses fotosintesis yang  dilakukan tumbuhan dan pepohonan , berjuta spesies binatang dapat terpenuhi kebutuhan makanannya dari tumbuhan dan proses rantai makanan dapat terus berlangsung dengan stabil dan dinamis, mereka berlindung dan menemukan rumah di pepohonan , kehancuran tempat tinggal yang kaya manfaat dan persediaan makanan merupakan kehancuran spesies-spesies yang berlindung di dalamnya , juga merupakan instrumen yang lambat laun akan   mengakibatkan krisis ekologi dalam kehidupan global .
Berpijak dari hal itu , maha suci Allah yang telah menjadikan Islam sebagai agama yang memperhatikan segala aspek kehidupan manusia terkait dengan hal yang mengarah pada kebaikan dan kebahagiaan manusia , tidak hanya mengajarkan dan menekankan keshalehan pribadi dan sosial akan tetapi juga memberikan apresiasi dengan menilai ibadah atas segala hal yang dapat menyalurkan manfaat bagi lingkungan dan makhluk       di sekitarnya . Sebagaimana hadist riwayat Bukhari dari jalur Jabir ra dan riwayat Muslim dari jalur Khudzaifah ra yang menerangkan bahwa setiap kebaikan tanpa terbatas dihitung sebagai amal shadaqah lalu diikuti hadist shahih berikutnya yang diriwayatkan  pula oleh imam Muslim dari Jabir ra  :
كل معروف صدقة ( رواه البخاري ومسلم )
لايغرس المسلم غرسا فيأكل منه إنسان ولا دابة ولا طير إلا كان له صدقة إلى يوم القيامة  ( رواه مسلم )

Dalam hadist di atas terdapat kesimpulan banyaknya jalan menuju amal kebaikan dan mendulang pahala bagi setiap muslim sebagai kemudahan dan rahmat dari-Nya, namun bukan itu saja melainkan perhatian secara spesifik yang ditunjukkan dalam hadist kedua serta penghargaan terhadap penanaman berbagai tumbuhan dan pepohonan yang merupakan wujud penghijauan  yang akan berdampak positif bagi lestarinya lingkungan alam dan  mewariskan beribu manfaat bagi berlangsungnya kehidupan manusia ke depan . Betapa agungnya penghargaan tersebut ketika kita pahami dari hadist itu yang menyebutkan manfaat yang dapat dirasakan oleh orang lain dan semua jenis binatang akan menjadi amal shadaqah yang pahalanya tak berkesudahan hingga hari kiamat . Bahkan dalam kitab Syarah Bukhari dan Syarah Muslim terdapat beberapa hadist semisal dan dimasukkan dalam bab tersendiri yang mengkaji tentang keutamaan bercocok tanam yang dikaitkan dengan nilai shadaqah ketika tanaman tersebut dapat menghasilkan makanan atau manfaat seperti hadist riwayat imam Ahmad dalam Musnadnya dari Abi Ayyub Al-Anshori ra :
مامن رجل يغرس غرسا إلا كتب له من الأجر قدر ما يخرج من ثمر ذلك الغرس

Nah coba kita bayangkan , setiap orang bisa menanam satu pohon bahkan menanam lebih banyak dan sebanyak-banyaknya di setiap jengkal tanah yang masih tersisa untuk menjaga kualitas oksigen dunia dan keseimbangan alamnya serta mengasilkan amal ibadah yang tak ternilai yang mungkin akan menjadi tabungan amal tak terduga karena dinilai kecil dan kurang diperhatikan  manusia .
Sayangnya hal ini kurang disadari sebagian kalangan umat Islam dan masih menganggap kecilnya nilai penghijauan dan menganggapnya terlepas dari masalah keagamaan dan porsi ibadah , itu dikarenakan kurang tersosialisasinya beberapa realitas yang sering dianggap bukan termasuk bidang keagamaan yang sebenarnya tercantum  jelas dalam nash dan perlu diperhatikan seperti  penghijauan dan perlindungan ekologi atau terlupanya nash-nash yang menguraikan hal-hal tersebut karena terlalu terpaku pada \porsi masalah ibadah dan mu’amalah .
Padahal seiring dengan perkembangan zaman kita harus gencar mengenalkan wacana lingkungan hidup dan penghijauan serta pengetahuan-pengetahuan kekinian yang ternyata tercetus ( tersurat atau tersirat ) dalam Al-Quran dan Al-Hadist  dengan perspektif Islam sendiri terhadap masyarakat luas dan generasi muda . Sehingga terlahir keseimbangan pengetahuan dan amaliyah yang selalu termotivasi oleh keterangan dari sumber pengetahuan itu sendiri yakni Al-Quran dan Al-Hadist , bukan hanya berdasarkan pendapat-pendapat ilmuwan barat yang umumnya sebatas mengandalkan rasio dan logika saja .

PERUSAKAN LINGKUNGAN OLEH TANGAN MANUSIA

Sejak zaman dahulu perusakan lingkungan telah terjadi untuk memenuhi kebutuhan manusia akan bahan-bahan dari alam, untuk lahan tempat tinggal dan lahan pertanian , berkenaan dengan semakin bertambahnya tingkat populasi manusia dengan tingkat kebutuhan yang tak terkendali telah mengakibatkan area hutan dan kawasan hijau semakin menyempit , berlanjut pada masalah peningkatan polusi sejak abad revolusi industri pada abad ke-18 hingga abad kini di mana puncak kemajuan teknologi  tengah berjaya dengan segala konsekwensinya menjadi problem serius yang tak berkesudahan . Lapisan ozon yang semakin menipis dan bumi yang semakin panas , mencairnya batuan es kutub setiap tahun dan meningginya volume air laut beserta makin rentannya alam terhadap bencana nyatanya tak menyadarkan banyak pihak untuk serentak meyudahi usaha penggundulan hutan di berbagai negara, meminimalisir produksi emisi dan polusi dari kerajaan-kerajaan industri dan transportasi, atau mendukung penuh gerakan pelestarian alam dan hutan seperti hasil KTT Copenhagen 2009 yang mencerminkan ketidak pedulian negara-negara besar sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar akan   rentanya kondisi bumi yang telah semakin tua .
Manusia sebagai pengemban amanah di muka bumi sekaligus sebagai aktor yang berperan dalam perusakan alam di atasnya telah tersebut dalam Al-Quran ( Ar-Rum : 41 ) :
ظهر الفساد في البر و البحر بما كسبت أيدي الناس ليذيقهم بعض الذي عملوا لعلهم يرجعون

Sesuai sunnatullah yang mengalir dengan hukum kausalitas  yang berimplikasi pada resiko yang harus dihadapi manusia atas kelalaiannya sendiri dalam menjaga lingkungan alam baik di darat maupun di laut , bencanapun tak pelak seringkali melanda sebagai peringatan dari Allah  untuk menimpakan mereka sebagian akibat dari perusakannya . Allah berfirman dalam ( Al-A’raf : 56 )
ولا تفسدوا في الأرض بعد إصلاحها

Dalam keterangan Tafsir Al-Munir oleh Wahbah Az-Zuhaily kata “ ifsad al-ardh“ yang berarti perusakan di bumi mengandung makna  perusakan atas segala aspek kehidupan yang telah dibangun oleh Allah baik  yang bersifat materi seperti kehidupan manusia , tumbuhan , satwa , bangunan atau perdagangan  dan yang bersifat non materi seperti perusakan akhlak dan moral ,  perusakan agama dengan kekafiran dan bid\ah sayyiah, perusakan jiwa, akal dan sebagainya .
Dalam konteks perusakan lingkungan yang berimplikasi pada eksploitasi alam besar-besaran dan berlebihan tanpa mengimbangi kerusakan-kerusakan ekosistem dengan pelestarian  alam secara global dan optimal di tambah beradunya berbagai jenis pencemaran  adalah seperti bumerang yang sedikit demi sedikit menghancurkan kenyamanan dan kesejahteraan  hidup manusia sendiri . Dan ketika garis sunnatullah sampai pada titik kehancuran akibat rusaknya lingkungan oleh ulah manusia disitulah hakekatnya kehendak Allah untuk memberikan peringatan kepada manusia sebagai penghuni bumi sekaligus khalifah atas semua makhluk di dalamnya untuk menjaga  tempatnya berpijak dan senantiasa santun pada lingkungan alamnya sebagai pelaksanaan amanah dan manifestasi syukur nikmat.

Category: Goresan Santri
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.

Comments are closed.