
1.
. . . dan (Allah) menjadikan matahari sebagai pelita.
-Al-Qur’an | Nûh 71:16
Dan kami jadikan Pelita yang amat terang (matahari).
-Al-Qur’an | Nûh 78:12
2.
Apa jadinya jika matahari tidak ada? Tentu saja kita akan kesulitan. Ia diciptakan bergerak agar siang dan malam terjadi di setiap belahan bumi. Andai tak ada matahari, urusan dunia dan agama akan kacau-balau.
Andaikata tak ada matahari, bagaimana kita akan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup? Bagaimana kita melakukan sesuatu, sedangkan dunia gelap-gulita? Bagaimana kita bisa bersuka-ria, sedangkan nikmat cahaya tidak kita peroleh? Dan andaikan cahaya matahari tidak ada, mata kita tidak lagi berguna karena sudah tidak ada warna untuk dilihat.
3.
Renungkanlah terbit dan terbenamnya matahari. Di kala malam, kita bisa tidur pulas dengan tenang. Dengan demikian, kita bisa mengistirahatkan badan, membiarkan semua indera kita tidak bekerja, dan bisa meningkatkan daya serap pencernaan.
Semua itu kita butuhkan, agar kita bisa terus bekerja esok siangnya. Dengan bekerja pun, kita bisa sehat dan tetap bugar. Dan kebutuhan sehari-hari pun bisa terpenuhi.
Bumi bisa menyerap panas yang dipancarkan matahari. Namun, dengan pergantian siang dan malam secara teratur, bumi tidak terlalu panas atau terlalu dingin; bumi menjadi hangat. Dengan demikian, makhluk hidup di atasnya hidup dengan nyaman.
Demikianlah siang dan malam, terang dan gelap. Meskipun berlawanan, keduanya saling membantu untuk kebaikan semua makhluk hidup, bahkan untuk kebaikan alam semesta.
4.
. . . dan (Dia) menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.
Al-Qur’an | Ar-Ra‘d 13:2
Pergeseran matahari menghasilkan beberapa musim dalam setahun, yang tanpa terasa sangat bermanfaat untuk kita.
Di Musim Dingin, pohon dan tetumbuhan kembali memperoleh partikel kalori, sehingga timbullah benih-benih pembuahan. Angin udara pun agak terbuka, sehingga awan bisa menumpuk dan turun hujan. Karena hawanya yang dingin, tubuh hewan menjadi kuat dan kerja alam menjadi optimal.
Di Musim Semi, benih-benih yang muncul di musim dingin mulai berkembang, sehingga lahirlah tumbuh-tumbuhan baru —atas perkenan Allah SWT. Di musim ini, hasrat hewan-hewan bergejolak untuk berkembang-biak.
Di Musim Panas udara menjadi kering dan buah-buahan sudah mulai matang. Permukaan bumi mengering, sehingga bisa ditanami berbagai macam tumbuhan.
Dan di Musim Gugur, udara menjadi bersih, sehingga berbagai macam penyakit menghilang. Malam menjadi lebih panjang, sehingga bisa kita jadikan kesempatan untuk mengerjakan sesuatu. Berkebun pun baik dilakukan di musim ini.
[Indonesia memiliki variasi musim yang berbeda dengan gambaran Al-Ghazâlî, berkat posisi geografis Indonesia yang menyentuh garis Katulistiwa. Coba renungkan, hikmah apa dibalik perbedaan musim ini! –penj.]
5.
Dalam satu hari, sinar matahari memancar ke seluruh penjuru bumi dengan cara yang unik. Andaikata ia memancar dari satu arah saja, ia kemungkinan akan terhalang oleh gunung atau tembok-tembok. Ini menjadikan sinar matahari tidak bisa dirasakan di tempat-tempat tertentu.
Sinar matahari memancar untuk kebaikan bumi dan segala isinya. Caranya memancar adalah menggeser dirinya dari tempatnya terbit menuju tempatnya terbenam. Dengan demikian, permukaan bumi sepenuhnya bisa tercerahkan oleh sinarnya yang bermanfaat.
[Ada benarnya nasihat orang-orang suci
memberi itu terangkan hati
seperti matahari
yang menyinari bumi
Iwan Fals | Seperti Matahari –penj.]
6.
Ukuran malam dan siang dirancang dalam durasi yang baik untuk bumi dan segala isinya. Andaikan malam lebih panjang daripada biasanya, bumi akan beku dan hewan-hewan tertentu tidak bisa bekerja untuk bertahan hidup. Sementara tetumbuhan akan membeku, sebagaimana terjadi di tempat-tempat yang tidak terpancar sinar matahari.
Pun andaikata siang lebih panjang ketimbang biasanya, penghuni bumi akan mengalami kerusakan. Bumi akan terasa lebih panas, sehingga tidak bisa ditanami tumbuhan apapun. Sehingga, persediaan kebutuhan hidup akan kurang dari yang dibutuhkan manusia.

7.
[catatan]
Matahari adalah sejenis planet yang berdiameter lebih dari 1.000.000 meter. Ini berarti, diameter matahari sama dengan 100 kali diameter bumi. Panas permukaan luar matahari sekitar 6.000 derajat. Semakin ke dalam, panas matahari semakin bertambah hingga mencapai lebih dari 20.000.000 derajat. Hal ini karena tekanan di pusat matahari sangat tinggi. Matahari bisa menyemburkan gas api ke tempat yang sangat jauh dari permukaannya. Di antara semburan itu dikenal dengan sebutan Titik Noda Matahari, semacam angin puting beliung di atmosfer matahari, yang diameternya bisa mencapai 50.000.000.000 kilometer.
[. . . diterjemahkan secara bebas dari kitab Imâm Abû Hâmid Al-Ghazâlî, Al-Hikmah fî Makhlûqât-llâh, hlm. 18-22]
oleh Muhammad Hilal

