Judul: Burdah; Antara Kasidah, Mistis dan Sejarah
Penulis: Muhammad Adib
Penerbit: Pustaka Pesantren (Kelompok Penerbit LKiS)
Cetakan: Mei 2009
Tebal: xv + 98 halaman
Membaca shalawat merupakan ungkapan kecintaan seseorang kepada kanjeng Nabi Muhammad. Kegiatan ini di Indonesia, terutama di wilayah pedesaan, banyak dilakukan dalam bentuk ritual keagamaan. Sementara di wilayah perkotaan negeri ini, shalawat banyak dijadikan lirik dalam tembang religius, sebagaimana tampak marak akhir-akhir ini. Dan setiap tahun, masyarakat Muslim Indonesia merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad dengan menyenandungkan shalawat bersama-sama. Itu semua merupakan ekspresi kecintaan umat Muslim terhadap Sang Nabi Terakhir.
Salah satu ritual pembacaan shalawat yang banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia adalah membaca Kasidah Burdah, atau yang biasanya disebut burdahan. Di pesantren-pesantren, Kasidah Burdah dibaca secara rutin setiap malam jum’at atau malam senen. Tidak hanya itu, di kala sedang mengadakan hajatan atau sedang menghadapi situasi kritis, Kasidah Burdah biasanya dibacakan dengan harapan bisa mencegah malapetaka dan marabahaya.
Namun, meskipun Kasidah Burdah dibaca dengan begitu marak dan antusias di negeri ini, jarang sekali ada yang membacanya secara historis dan kritis. Padahal, jika kita telusuri sejarahnya, syair-syair yang sarat nilai sastra ini tidak berangkat dari ruang kosong.
more…